I'm bored.
I'm home.
I'm thinking, how pathetic I am.
I always imagine, I'm being whatever I want to be.
I'm full of skill, academically (?)
I'm ready, aren't I.
I'm full of worry-ness.
I'm doubt.
Once, I thought I was ready.
No. I wasn't.
I fucked my self off.
I screwed everything up.
But now, I think it's time.
There's chance(s).
Far. Far away, but classified.
I'm ready. Am I?
I will not screw things up. Won't I?
Just get up. Take a step.
Things will changes, time will never be the same.
But, all is about compromise. Isn't it? I think.
-------inuin-------
Pengembaraan adalah sebuah obsesi katamu, seperti camar yang melayang kesana kemari menembus awan menerobos angin, melukis langit lalu menukik ke buih gelombang dan melesat lagi ke angkasa biru. Pun juga dengan apa yang kulakukan padamu pengembaraan bagiku seperti membaca buku, menelisik tiap-tiap lembarnya, berharap kelak akan menjadi pegangan hidup bagi masa depan. *copy-paste from harrybawole477 (dot) wordpress (dot) com*
Showing posts with label Sebut-ini-fiksi. Show all posts
Showing posts with label Sebut-ini-fiksi. Show all posts
Friday, 9 May 2014
Monday, 3 February 2014
#30HariMenulisSuratCinta Kepada I,
I, ingatkah kamu akan pertemuan-pertemuan kita yang dahulu? Urusan kerja. Saat itu aku selalu menemaninya. Adakah saat itu, sudah tumbuh di hatimu perasaan menginginkan? I, bagaimana semua bisa terjadi, I? Bisakah kamu menceritakan padaku? Aku hanya tak mendapatkan darinya.
Tidak, I. Aku tidak akan menghakimi. Bahkan sampai detik terakhir aku mengetahui ini semua, aku tak sanggup menyalahkan siapa-siapa. Bagaimana, I? Perasaanmu? Bukankah dia sungguh sosok yang menyenangkan? Dengan segala cerita-cerita tentang dunia yang dia miliki?
Adakah aku dalam cerita-ceritanya, I?
I, aku hanya berharap seseorang meminta maaf. Berlebihankah, I? Aku tahu, I. Jika bukan dia yang menghujanimu dengan manisnya, ini semua tak akan pernah terjadi. Aku mengenalnya, I. Dia membuatmu merasa diinginkan, bukan? I, aku tak mengenal baik dirimu. Tapi aku yakin, I, kamu bisa menjaga perasaanmu.
Aku berterima kasih untuk kesediaanmu menutup pintu dari luar hatinya, I. Membiarkan kami berdebat di dalam dan semoga berakhir dengan sebuah peluk maaf.
Apakah aku menyakitimu jika aku meminta doa'mu, I? Aku minta maaf. Apa aku terlihat seperti seorang wanita egois menyedihkan, mengemis kepergianmu untuk membuatnya kembali pulang, I? Kurasa tidak, I. Aku minta maaf.
I, sekali lagi aku berterima kasih. Jaga perasaanmu, I.
tertanda,
inuin
#30HariMeulisSuratCinta Tuan...
Aku menemukan cerita yang berbeda, Tuan. Cerita kalian berdua, yang tak ada aku di dalamnya. Katamu, dia yang memulai. Kataku, Tuanlah yang berharap. Atau kalian saling berharap? Mengingini satu sama lain.
Aku tahu rasanya seperti de javu. Tiga tahun lalu. Saat itu aku berada di posisinya. Menjadi pihak yang bukan siapa-siapa, tetapi tetap merasa diinginkan.
Rasanya saat itu menyenangkan, Tuan tahu? Menjadi pihak yang bermain 'aman'. tak tersakiti. Tuan selalu datang di waktu yang ku ingin, walaupun aku tak pernah meminta. Walaupun itu berarti harus menunggu Tuan 'selesai' dengan Nona cantik yang waktu itu berada di posisiku sekarang, -kekasih Tuan, baru menjemputku.
Rasanya membanggakan. Ketika waktu itu Tuan bilang Nona cantik itu menyadari keberadaanku di mata Tuan. Membuatku merasa cukup layak untuk dipertimbangkan.
Rasanya sedikit kebas. Mendengar Tuan selalu bercerita tentang si Nona cantik ketika bersamaku. Aku hanya menahankan. Apakah sekarang ketika bersama 'dia' si gadis berkerudung akhwat itu, Tuan juga menceritakan tentangku, pada obrolan-sambil-saling-peluk kalian menjelang tidur, hm? Bercerita tentang tempat-tempat yang pernah kita datangi, dan sesekali menyelipkan janji-janji untuk kalian ke sana? Tuan, ingat? Saat itu aku hanya tersenyum antusias, apakah dia juga begitu? Berpegang pada janji-janji kecil sepele itu?
Tuan, aku tak pernah bersimpati pada perasaan si Nona Cantik kesayangan, yang sekarang berada di pulau seberang itu. Apakah menyakitkan, mendapati yang tercinta bersama wanita lain, -yang waktu itu adalah aku? Apakah menjengkelkan, hanya menjadi sekedar pilihan disandingkan dengan pilihan lain, yaitu aku? Walaupun nona cantik selalu menjadi pilihan pertama. Pun apakah rasanya tak percaya, ternyata gadis kecil yang menjadi saingan.
Sekarang, Tuan? Aku hanya bisa bilang 'oh, begini rasanya' berada di posisi Nona bermata belsar cantik itu? Segala rasa sakit, kaget, marah, bingung, jengkel, muak, tak percaya, minder, menyalahkan diri sendiri, ketakutan... Sial. Recah, Tuan.
Tuan tau? Aku pun juga pernah berpikir aku akan mengalami ini cepat atau lambat. Aku mendapatkan tuan dengan cara seperti ini. Tak menutup kemungkinan aku juga akan tersingkir dengan cara ini, bukan?
Tetapi, Tuan, tahun-tahun yang kita lewati, tempat-tempat yang kita datangi bersama, setiap pelukan, tiap-tiap kata menguatkan darimu, dariku, setiap janji, setiap kemarahan, setiap angan-angan masa depan, membuatku percaya kita menapaki anak-anak tangga sebuah hubungan dengan benar, bertahap, dan kokoh. Membuatku berpikir akulah satu-satunya. akulah yang memang tuan inginkan.
Tetapi apa sekarang. Aku tak tahu pasti apa yang terjadi di antara kalian. Tapi aku cukup yakin, sama seperti hubungan kita waktu dulu. Tuan, aku yang menjadi yang pertama, semua orang tahu, dan dia gadis 19/20 tahun yang berada dalam kastil yang ku buat di hati Tuan, tanpa ku ketahui keberadaannya sampai Tuan sendiri yang membuka kunci pintunya, membiarkan dia duduk-duduk di ruang yang sama yang tuan gunakan untuk mencumbuku.
Sial. Sial. Sial. Aku harus bagaimana, Tuan? Aku ingin percaya pada kata-kata tuan, bahwa apa-apa yang sudah kalian bangun sudah benar berakhir. Aku ingin percaya, Tuan. Tapi, yang Tuan tidak sadari dan akui, aku sungguh mengenal Tuan, lebih dari yang Tuan tahu. Setiap kemarahan yang Tuan tunjukkan, setiap kebohongan yang menumpuk di mata Tuan, semua tumpah di pelupuk mataku yang basah.
Tuan selalu mengulang-ulang tentang 'hanya wanita-wanita luar biasa'. Apa luar biasanya dia? Apakah ketika bersamanya, Tuan tak pernah merasa perlu marah atau membentak, tidak seperti ketika bersamaku? Apakah dia, tidak menjengkelkan dan membuat capek ketika jalan-jalan? Banyak apakah-apakah lainnya yang ingin aku tahu, manifestasi rasa bersalah dan rasa tak percaya diriku.
Aku tahu dia cantik. Aku merasa dia seperti bintang film kesayangan Tuan. Dengan penampilan yang membuatku berpikir, dia tak akan mau menjalani apa hal yang kalian miliki sekarang. Hei, aku tak merendahkan. Aku juga sama rendahnya, bukan? Tidak juga, aku tak menyama-rendahkan. Semua hanya asumsi. Hanya saja dia bukan gadis yang sebelumnya ku pikir. Yang kubayangkan adalah gadis 19 tahun, labil, yang tidak mungkin mendapat perhatian Tuan. Ternyata aku salah. She has 'it'. Dan aku tahu, Tuan tertarik. Anggap itu kesialanku.
Dan jika seperti yang Tuan selalu tanyakan, 'memangnya apa yang bisa kamu tawarkan, jika kamu menuntuku untuk tidak ini itu sesuai inginmu?' Aku tak punya, Tuan. Aku tak bisa menjanjikan kepastian, aku tak bisa menawarkan apa-apa yang mungkin wanita lain bisa tawarkan. Yang Tuan perlu tahu, aku sudah memberi segala. Tuan tahu itu. Tak berlebihankan, jika aku juga berharap aku yang satu di hati? Tidak ada bermain-main dengan wanita lain?
Tuan, aku sungguh tahu. Siapa dan apa saja. Hanya aku tak cukup sampai pada bagaimana. Aku tak mengerti. Atau sebenarnya aku mengerti karena aku pernah berada di posisinya, hanya saja masih tak percaya. Dia, tuan? Dan ini itu yang sudah menjadi jejak awal kalian? Hanya saja akan lebih mudah bagiku, untuk mengerti jika itu semua tentang si Nona cantik yang akan studi lagi Maret depan. Ah ya, aku harus menghadapi satu wanita lagi, hm? Semoga tidak. Ku mohon tidak, tuan.
Aku sungguh sayang Tuan. Dan jangan kalian menertawakan atas segala penerimaan, kepercayaan, dan keboodohanku.
Apa yang kalian pikirkan, Tuan? Apa yang dia pikirkan tentangku? Aku, wanita yang selalu berbangga dengan lelakiku, lelaki yang dia tahu juga mencumbunya setelah mencumbuku.
Dan ceritakan, Tuan. Tolong ceritakan semuanya...Aku hanya ingin mendengar dari awal sampai saat sekarang. Yang sebenarnya. Bisakah? Aku mohon.
Aku menunggu.
inuin
Saturday, 4 January 2014
#2
Sial. Aku segera mengalihkan pandangan ku ke papan proyeksi. Layar berganti slide, kali ini sampai pada sub point tentang market-demanding. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Dari sudut mata, kulihat dia tersenyum, masih sambil mencatat di notesnya.
Aku tidak pernah melihatnya se-biasa ini. Tidak pernah. Dia akan selalu datang dengan sejuta keceriaan terpampang di wajahnya. Dengan tangan kesana-kemari menjaili semua yang dilewati. Membuat perempuan2 itu merajuk manja. Pemandangan membosankan setiap hari.
Tapi, hari ini, -apakah cuma aku atau teman2 yang lain juga sependapat, bahwa duta kebahagiaan mereka, terlalu terkendali? Dia datang hanya dengan langkah2 pelan tapi pasti, tersenyum malas, dan segera duduk. Oya, dia membuat catatan alih2 jahil menyela dosen, atau mencari-cari perhatian ke perempuan2 itu, membuat heboh.
Kemudian aku sadar, untuk memutuskan bahwa aku tidak peduli. Sampai saat secarik kertas dengan tulisan acak2an itu, tepat diletakkan di atas notesku. Satu kalimat sederhana di atasnya membuat aku menoleh, melihat dia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.
Aku tidak pernah melihatnya se-biasa ini. Tidak pernah. Dia akan selalu datang dengan sejuta keceriaan terpampang di wajahnya. Dengan tangan kesana-kemari menjaili semua yang dilewati. Membuat perempuan2 itu merajuk manja. Pemandangan membosankan setiap hari.
Tapi, hari ini, -apakah cuma aku atau teman2 yang lain juga sependapat, bahwa duta kebahagiaan mereka, terlalu terkendali? Dia datang hanya dengan langkah2 pelan tapi pasti, tersenyum malas, dan segera duduk. Oya, dia membuat catatan alih2 jahil menyela dosen, atau mencari-cari perhatian ke perempuan2 itu, membuat heboh.
Kemudian aku sadar, untuk memutuskan bahwa aku tidak peduli. Sampai saat secarik kertas dengan tulisan acak2an itu, tepat diletakkan di atas notesku. Satu kalimat sederhana di atasnya membuat aku menoleh, melihat dia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.
Thursday, 2 January 2014
#1
Sesaat aku terpaku dengan apa yang ku lihat lewat di depanku. Senyumnya? Aku sudah sangat terbiasa dengan sapa senyumnya itu. Senyum separo malas dan berkesan arogan, -seperti biasanya. Tapi bukan itu. Ada yang berbeda dengannya hari ini. Entah. Aku berpikir sesaat untuk mencari kata yang tepat, tapi apa. Ku amati dia yang kini sedang menatap serius ke depan, ke papan layar proyeksi yang aku yakin 100% tak dimengertinya, tapi seakan dia menikmati apa yang tertulis di sana. Bahkan sempat pula ia mencoret-coret sesuatu dengan snowmannya di buku notes. Penasaran, aku lirik sebentar dan waw.. dia mencatat. Perhatian, dia mencatat semua tulisan yang ada di layar proyeksi. Sesuatu yang mustahil dilakukannya. Aku perhatikan dia dari ujung sepatu sampai ujung rambutdengan cermat. Baru 128 detik kemudian, seperti benar-benar mendengar bunyi ‘klik’ di kepala ku, persis ketika dia menoleh dengan sebelah alis terangkat, -menanyakan sikapku, ku temukan kata yang tepat. Dia terlalu biasa. Ya. Hari ini.. dia.. terlalu.. biasa!
Inuin, repost wordpress. Semoga bakal ada #2.
Saturday, 23 November 2013
Tentang menikah...
"aku sudah disuruh untuk menikah'' katanya ketika aku baru saja duduk di kursi yang berseberangan dengannya. Suasana kafe sedang ramai.
"apa?'' aku memastikan apa yang kudengar ditengah hingar obrolan pengunjung lain.
"oke oke, tapi biarkan aku memesan makananku dulu'' kataku lagi ketika dia hanya menatapku jengkel.
...
''jadi, kamu akan menikah? ...umm muda?'' tanyaku ragu. Umurku baru 21, dia mungkin 24. Dan laki-laki menikah di umur 24, itu masuk nikah muda kan? Iya kan? Seseorang, tolong katakan iya..
"aku bilang aku sudah disuruh menikah, bukan mau menikah!'' hey, jangan membanting garpu, makan saja pisang kejumu dengan benar.
"waaaa... Bagus dong, coba aku yang disuruh menikah. Aku pasti langsung iya iya mau mau. Hahaha'' tawaku tidak mempedulikan kejengkelannya. Dia hanya bersedekap. Menatapku lama, kemudian bertanya dengan nada datar...
"memangnya menurutmu, menikah itu bagaimana?''
Aku terdiam. Membuka bibirku untuk menjawab tapi kemudian menutupnya kembali. Aku perlu berfikir, bukan? Sesuatu dalam kepalaku mengatakan menikah bukan soal kecil. Kata 'menikah' itu sendiri, memang berarti banyak, bukan? Tolong, saya mulai bingung.
Dia masih diam, menunggu ku berfikir. Sangat dia, tahu kapan harus berargumen, atau diam saja membiarkanku berfikir. Saat denganku.
Oke, mari kita urai keruwetan kata menikah di kepalaku. Dari sejak kecil, sepertinya orangtuaku sudah mengarahkan aku untuk sekolah tinggi, sarjana s1 setidaknya. Tunggu, jangan protes. Ini berhubungan. Dan benar, saya akan menamatkan sarjana tahun ini, akhir tahun. Umurku? Masih 21. Muda kan? Dalam pikiran ku, aku akan bekerja dan masih 'single' selama 3-4 tahun. Bersenang-senang untuk diri, menunjukkan bakti kepada orangtua dengan hasil kerjaku, dan menabung untuk menikah. Jadi, setidaknya saya akan menikah di umur 24 atau 25. Itu idealisme ku.
Tapi, aku tinggal di lingkungan teman-teman yang sudah melewati tahap yang kusebut di atas (lulus, kerja, dan menikah). Ketika aku masih sombong soal tugas-tugas kuliah, mereka sudah bisa pamer soal gaji pendapatan. Dan tentu saja, ketika aku baru masuk dunia kerja, mereka sudah merasa cukup menabung untuk pernikahan dari kerjanya mereka semasa aku masih kuliah. Dan ya, mereka semua sudah menikah. Iya, SEMUA. Teman-teman sepermaian ku dari bayi SEMUA sudah menikah.
Panjang, ya? Ehem..
Dari mereka aku bisa melihat. Iya, hanya melihat. Kami sudah tidak pernah lagi berkumpul ngrumpi atau 'girls talk'. Jadi ini kelihatannya, sekali lagi kelihatannya, ENAK, ASYIK, dan BIKIN IRI. Coba saja bila sore sore mereka duduk-duduk di luar, mengawasi si junior lagi bermain. Tertawa bersama, mungkin juga sambil saling bercerita kegiatan yang mereka lakukan seharian tadi, atau sekedar menggunjing tetangga. SERASI, aku bilang. Atau ketika mereka harus tiba-tiba segera pulang ketika acara undangan bahkan belum selesai HANYA karena suami ternyata pulang cepat. MANIS. Bersama-sama pergi ke swalayan untuk belanja bulanan, dan hal-hal manis lain yang dilakukan oleh sebuah keluarga...kecil.
Dan ya, ini hanya soal KELIHATANNYA enak. Coba aku juga sudah menikah.
Tapi, berkali-kali seseorang juga bilang bahwa hidup bukan hanya soal kelihatannya. Siapa yang tahu tentang yang tidak kelihatan dari yang kelihatannya enak tadi? Dan tentu hanya mereka yang mengalami yang tahu. Aku tidak akan mengusik.
Tapi, itu membuatku berpikir kembali. Ha, menikah bukan hanya soal hal- hal manis berdua bukan? Dan banyak sekali daftar dalam kepalaku untuk hal-hal yang bukan soal berdua. Entah ini hanya aku atau juga yang lain, -mungkin hanya aku, tentang aku tidak bisa membayangkan aku harus berakrab-akrab terhadap sebuah keluarga baru yang (mungkin) asing. Keluarga mertua. Oh no.. Aku pikir wajar kan, jika ternyata memang selalu ada jarak, batas tak kasat mata, antara kita si menantu dengan mertua. Setipis apapun itu. Dan parahnya, di umur 21 aku belum bisa mengatasi jarak itu. Untuk itu, aku bersyukur aku belum menikah. Beri aku waktu, sayang. Hehehe.
Juga...soal anak. Teman-teman ku tadi sudah menjadi ibu di umur 20-21. Dan tolooong.. Aku bisa bayangkan aku tidak bisa. Ya, yaahh.. Kalian paham bukan? Mengurus diri sendiri saja, seperti kerapian kamar, perawatan diri, jauh dari kata pantas, ini mau menikah muda dan punya anak. Hah. Kamu bercanda!
...
Ketika akhirnya aku hanya menjawab..
"bahwa menikah itu memang butuh nekat, tapi persiapan ALL OUT juga harus ada. Tapi aku masih belum ingin menikah. Bagiku, menikah tidak sesederhana aku sayang dia, dia sayang aku. Tapi...entah juga sih kalau pacar ngajak nikah sekarang dan restu didapat. Mungkin mau. Hahaha. Asal punya rumah sendiri, ngontrak dulu mungkin?''
Dia, yang sudah berteman lama denganku, hanya mendengus mendengar jawabanku.
Inuin, belum pengen menikah tahun depan.
"apa?'' aku memastikan apa yang kudengar ditengah hingar obrolan pengunjung lain.
"oke oke, tapi biarkan aku memesan makananku dulu'' kataku lagi ketika dia hanya menatapku jengkel.
...
''jadi, kamu akan menikah? ...umm muda?'' tanyaku ragu. Umurku baru 21, dia mungkin 24. Dan laki-laki menikah di umur 24, itu masuk nikah muda kan? Iya kan? Seseorang, tolong katakan iya..
"aku bilang aku sudah disuruh menikah, bukan mau menikah!'' hey, jangan membanting garpu, makan saja pisang kejumu dengan benar.
"waaaa... Bagus dong, coba aku yang disuruh menikah. Aku pasti langsung iya iya mau mau. Hahaha'' tawaku tidak mempedulikan kejengkelannya. Dia hanya bersedekap. Menatapku lama, kemudian bertanya dengan nada datar...
"memangnya menurutmu, menikah itu bagaimana?''
Aku terdiam. Membuka bibirku untuk menjawab tapi kemudian menutupnya kembali. Aku perlu berfikir, bukan? Sesuatu dalam kepalaku mengatakan menikah bukan soal kecil. Kata 'menikah' itu sendiri, memang berarti banyak, bukan? Tolong, saya mulai bingung.
Dia masih diam, menunggu ku berfikir. Sangat dia, tahu kapan harus berargumen, atau diam saja membiarkanku berfikir. Saat denganku.
Oke, mari kita urai keruwetan kata menikah di kepalaku. Dari sejak kecil, sepertinya orangtuaku sudah mengarahkan aku untuk sekolah tinggi, sarjana s1 setidaknya. Tunggu, jangan protes. Ini berhubungan. Dan benar, saya akan menamatkan sarjana tahun ini, akhir tahun. Umurku? Masih 21. Muda kan? Dalam pikiran ku, aku akan bekerja dan masih 'single' selama 3-4 tahun. Bersenang-senang untuk diri, menunjukkan bakti kepada orangtua dengan hasil kerjaku, dan menabung untuk menikah. Jadi, setidaknya saya akan menikah di umur 24 atau 25. Itu idealisme ku.
Tapi, aku tinggal di lingkungan teman-teman yang sudah melewati tahap yang kusebut di atas (lulus, kerja, dan menikah). Ketika aku masih sombong soal tugas-tugas kuliah, mereka sudah bisa pamer soal gaji pendapatan. Dan tentu saja, ketika aku baru masuk dunia kerja, mereka sudah merasa cukup menabung untuk pernikahan dari kerjanya mereka semasa aku masih kuliah. Dan ya, mereka semua sudah menikah. Iya, SEMUA. Teman-teman sepermaian ku dari bayi SEMUA sudah menikah.
Panjang, ya? Ehem..
Dari mereka aku bisa melihat. Iya, hanya melihat. Kami sudah tidak pernah lagi berkumpul ngrumpi atau 'girls talk'. Jadi ini kelihatannya, sekali lagi kelihatannya, ENAK, ASYIK, dan BIKIN IRI. Coba saja bila sore sore mereka duduk-duduk di luar, mengawasi si junior lagi bermain. Tertawa bersama, mungkin juga sambil saling bercerita kegiatan yang mereka lakukan seharian tadi, atau sekedar menggunjing tetangga. SERASI, aku bilang. Atau ketika mereka harus tiba-tiba segera pulang ketika acara undangan bahkan belum selesai HANYA karena suami ternyata pulang cepat. MANIS. Bersama-sama pergi ke swalayan untuk belanja bulanan, dan hal-hal manis lain yang dilakukan oleh sebuah keluarga...kecil.
Dan ya, ini hanya soal KELIHATANNYA enak. Coba aku juga sudah menikah.
Tapi, berkali-kali seseorang juga bilang bahwa hidup bukan hanya soal kelihatannya. Siapa yang tahu tentang yang tidak kelihatan dari yang kelihatannya enak tadi? Dan tentu hanya mereka yang mengalami yang tahu. Aku tidak akan mengusik.
Tapi, itu membuatku berpikir kembali. Ha, menikah bukan hanya soal hal- hal manis berdua bukan? Dan banyak sekali daftar dalam kepalaku untuk hal-hal yang bukan soal berdua. Entah ini hanya aku atau juga yang lain, -mungkin hanya aku, tentang aku tidak bisa membayangkan aku harus berakrab-akrab terhadap sebuah keluarga baru yang (mungkin) asing. Keluarga mertua. Oh no.. Aku pikir wajar kan, jika ternyata memang selalu ada jarak, batas tak kasat mata, antara kita si menantu dengan mertua. Setipis apapun itu. Dan parahnya, di umur 21 aku belum bisa mengatasi jarak itu. Untuk itu, aku bersyukur aku belum menikah. Beri aku waktu, sayang. Hehehe.
Juga...soal anak. Teman-teman ku tadi sudah menjadi ibu di umur 20-21. Dan tolooong.. Aku bisa bayangkan aku tidak bisa. Ya, yaahh.. Kalian paham bukan? Mengurus diri sendiri saja, seperti kerapian kamar, perawatan diri, jauh dari kata pantas, ini mau menikah muda dan punya anak. Hah. Kamu bercanda!
...
Ketika akhirnya aku hanya menjawab..
"bahwa menikah itu memang butuh nekat, tapi persiapan ALL OUT juga harus ada. Tapi aku masih belum ingin menikah. Bagiku, menikah tidak sesederhana aku sayang dia, dia sayang aku. Tapi...entah juga sih kalau pacar ngajak nikah sekarang dan restu didapat. Mungkin mau. Hahaha. Asal punya rumah sendiri, ngontrak dulu mungkin?''
Dia, yang sudah berteman lama denganku, hanya mendengus mendengar jawabanku.
Inuin, belum pengen menikah tahun depan.
Thursday, 21 November 2013
Terima kasih dan maaf..
21:04 wib.
Mungkin aku tidak akan lagi memintamu menemani ku sejauh ini. Jika yang ku dapat hanya wajah marahmu, mata yang tak bersahabat atau berkekasih??, bibir yang tak ku kenal, gestur tak tersentuh. Tak sepadan, ku bilang. Oya.. Ngomong2 soal wajah marahmu itu..sebenarnya aku sudah menebalkan hatiku, kalau tidak kau akan terkejut melihat betapa itu sungguh menyakitiku. Bukannya sekarang tak memberi luka, hanya saja aku antisipatif. Kau bilang itu ndableg. Kau tau? Itu hanya manifestasi dari luka ku. Hitung saja berapa ribu kali, wajah marahmu itu kau munculkan d hadapanku. Hari ini saja, lebih dari 3 kali. Kau ingat??
Tadi, (ini adegan imajiner ku di sepanjang jalan), sebelum kau pergi, mungkin aku bisa menawarimu sebotol minuman dingin, karena hangat tak ada disini, hm..padahal ini malam berhujan ya. Atau aku akan memberikan senyum ku yang berkali kau bilang manis, ku pikir itu akan mengalahkan dingin hujan di luar, membuatmu hangat..atau ternyata tak mampu?? Mungkin juga, ini pasti..aku akan mengucapkan terima kasih dengan kata sayang di belakangnya, ‘terima kasih sayang’ dan seulas senyum..kau tak luluh?? Di akhiri dengan ‘hati- hati’ yang bukan hanya basa-basi..aku tahu kau diburu waktu, mungkin dengan sedikit kata itu dari ku bisa membuat cara mengemudimu sedikit aman. Atau nyatanya tak pernah?? Dan kita akan berpisah dalam senyum..ahh manisnya.
Tapi tentu saja, itu hanya adegan yang ada dalam kepalaku sepanjang perjalanan. Kau..tentu saja tak memberi sedikit kesempatan untuk itu.. Marahmu sedingin kemarau. Kering. Merengges sampai ke tulang. Dan teriakku tak mampu menghangatkan. Menguar. Menghitam dalam tulisanku. Menunggu kau sambangi, yang tentu saja tak mungkin, bukan? Kau tak suka.
Ahh sudahlah.. Terima kasih dan maaf.. *aku sudah mengatakan lewat pesan, bukan? Aku cinta kau..
Inuin, repost blog wordpress.
Tuesday, 17 September 2013
#30HariMenulisSuratCinta: Teruntuk Kamu yang Sekarang Bersamanya..
*Baca ini dengan nada ceria*
Hai, Kiki ya? Iya kan? Kita belum sempat berkenalan hari lebaran lalu. Aku yang terlalu malas keluar rumah atau kamu yang hanya sebentar bertamu ke rumahnya. Mungkin yang pertama, karena semua bilang melihatmu. Hanya aku saja yang tidak, tapi tak masalah. Toh aku tahu namamu, ya iyalah... Oke, anggap saja aku terlalu ingin tahu, -orang bilangnya 'kepo', terhadap mantan. Masuk ke TL dia dan menemukan kamu, selalu ng'like dan kadang komen mesra. Juga di info in-relationship-with-nya nama FB kamu. Bisa diterima?? Haha..
Aku penasaran, kamu tahu aku? Mungkin dia pernah cerita? Tidak ya? Aku memang kadang ke-ge-er-an. Perkenalkan, aku Inu. Hmm.. Pernah dengar namaku dari siapapun itu? Mungkin teman2 pernah menyebut ku dalam cerita2 tentangnya. Yup, aku si tetangga. Rumahku di sebelah selatan rumah dia. Dan ya... Aku si mantan kekasih. 4-5 tahun lalu. Tenang saja, ambil napas... itu waktu yang sudah sangat lama.
Ehmm.. Ini takkan panjang2, aku akan membuatnya singkat. Setelah ini aku harus menghadiri acara teman. Aku menulis ini bukan untuk apa2. Sekedar ingin saling kenal dan untuk berterima kasih. Terima kasih untuk sekarang menemani dia, semoga sampai besuk, lusa dan seterusnya. Aku selalu berfikir dia masih pria yang sama, pria dengan segala luka karenaku. Dengan hati yang tak lagi rapi, ku pikir kamu bekerja keras untuk menatanya kembali. Bukan salah dia, apalagi kamu. Memang keadaan dulu yang entahlah. Dan aku berterima kasih untuk itu. Untuk ditemukannya kamu oleh dia.
13.05 wib. Aku harus segera mandi.
Sekali lagi aku tak bermaksud apa2 atas surat ini. Jagalah dia. Dan jangan kamu khawatirkan aku. Eh enggak ya? Haha.. Aku hanyalah sosok kenangan baginya, begitu juga dia bagiku. Dia sudah menjadi milikmu, begitupun aku bagi seseorang lain. Untuk segala luka dan kenangan tentangku yang tersimpan di hatinya, bijaklah...
Semoga bahagia... Aku benar2 berharap bisa bertemu dan menjabat tanganmu. Mungkin juga obrolan dengan segelas minuman dingin.. Shall we??
inu in..
*Sebelum ng'hadirin acara syukuran wisuda temen. Inu in, -belum mandi*
Thursday, 12 September 2013
Pulang.
Pulang?? Iya.
Sampai hari ini saya selalu berfikir pulang bukanlah hal mudah bagi saya. Pulang berarti saya harus merelakan kebebasan saya diganti dengan kewajiban-lapor-untuk-setiap-kegiatan-saya-dengan-orang-rumah. Pulang berarti tidak lagi bisanya saya pergi kemanpun dan kapanpun mau saya. Tidak ada bangun siang. Tidak ada pulang malam.
Thursday, 29 August 2013
Aku (lagi) cape!
Aku sedang lelah. Kemarikan bahumu. Boleh??
Aku berharap 'kenapa-ada-apa' mu muncul di layar handphoneku. Agar aku bisa menjawab manja 'entahlah, semua ini membuat aku lelah.. Tumpukan kertas ini.. atau mungkin perhatianmu saja yang menyusut akhir2 ini'.
*malam 29
Tuesday, 23 July 2013
#30HariMenulisSuratCinta: kepada seorang teman
Kepada seorang teman…
Hallo, masih hidup? Hitung berapa bulan sudah kita
tak lagi prnah jumpa? 10 bulan? 12 bulan? Atau 2 tahun? Aku bahkan tak ingat
kapan kita terakhir kali duduk2 di sebuah kafe dan berbicara apa saja,
menghabiskan waktu hingga tengah malam dengan hanya aku memesan segelas es susu
coklat , pisang keju dan kamu biasanya kopi, entah jenis yang mana aku tak
memperhatikan. Kau tahu aku bukan penikmat kopi, bukan?
Dan kau ingat? Pasti kan? Kau bilang selalu ingat hal
tentangku. Iya, kau akan mendengarkan aku bercerita tentang aku, tentang aku
dengan seseorang, biasanya kita hanya membuat kode, inisial2, kita saling tak
tahu kita sedang membicarakan siapa. Hingga di kemudian hari, ketika telponmu
aku angkat, kau selalu bertanya “apa kabar dia?” dan aku akan berpura-pura tak
tau dia yang mana yang kau maksud. Kita akan tertawa. Dan obrolan akan mengalir
asyik dimulai dengan kalimat itu.
Aku tau kau pendengar yang baik. Kau akan mendengar
ocehanku tentang dia yang mungkin tak kau suka, tapi kau diam saja. Tak
menyuarakan ke-tak-setuju-an-mu, menanggapi antusias, seolah tertarik dan tidak
menghakimi. Begitupun semoga dengan aku, mendengarkanmu dan tak menghakimi.
Tapi itu yang saling kita lakukan taun2 terakhir ini.
Menghakimi. Aku tak suka dengan apa yang kau suka lakukan sekarang. Kau tak
suka dengan siapa aku melakukan segalanya sekarang. Dan itu saling kita
utarakan. Membuat defensive, mentang jarak. Pesan2 singkat seolah bernada asing
tak wajar, mudah sekali terlewatkan tanpa sempat membalas.
Kau tahu? Aku kadang merindukan percakapan2 gila
kita. Tentang apa saja dari sudut pandang kita. Tapi kita terlalu gengsi untuk
mulai menyapa lagi. Maka ku tulis ini, surat kepada seorang teman yang hilang.
Berharap kau cukup ingin tahu tentang aku dan kau temukan ini. Baca. Dan
mungkin kau bisa mulai dengan meneleponku. Aku mulai meninggalkan aplikasi
pesan singkat belakangan ini. Telpon aku, mari kita buat percakapan edan kita
lagi seperti dulu.
Ps. Aku tahu kau selalu stalking akun socmed ku.. keep
stalking, hey you!
Subscribe to:
Posts (Atom)
