Friday, 8 May 2015

Broken

"I know you are broken" he said as his gaze never left mine.
And I just stare at him like an idiot. Hell, I'm not giving a shit about his I-know-you-are-blah-blah-shits line. He says it since our first meeting, doesn't he? Claimed he'd noticed me, already knew my basic personal informations.
But... the way he said something about broken thing left my brain seem didn't do right. He must mean something else, right?. What? And shit, I know. He knew.
Calmly I nod. "Yes, and I'm pretty sure you do know quote 'Do not accept if seal is broken', don't you?"
"Did I say I'm going to accept?" He answered quickly.
Hell. "Ha. Ha. Good point" I said drily. And the next second I know I was giving him my damn appartment address. "Pick me up at seven" I rose from the couch, headed to the exit door of the cafe.

-inuin

Wednesday, 11 February 2015

Lukaku *kayak pemain bola aja*

Ada luka yang kau tulis. Untuk sekedar ingatan di kemudian nanti. Atau mungkin mengurangi sakitnya dulu.

Hingga selang waktu... ketika kau luang dan membaca ulang;
Ada luka-yang-kau-tulis-itu justru kau tertawakan. Yang kau umpat; Bangke, ah ~
Ada juga yang kau justru kagumi cara menulismu; kok bagus, sih? ~
Tapi.. ada luka yang tak sanggup kau baca lagi. Sakitnya masih basah walau sudah lama tak kau sentuh. Bahkan kau mempercepat scrolling di layar HPmu ketika sampai padanya. Tak mau. Tak sanggup.

Aku punya luka seperti itu. Di sini.

#inuin

Tuesday, 16 December 2014

Saya... bukan seperti wanita kebanyakan.

Atau... malah seperti wanita kebanyakan.

1. Saya tidak suka kucing. Lebih tepatnya tidak suka hewan peliharaan. Selama 22 tahun, saya belum pernah memelihara hewan apapun. Hey, mungkin pernah. Selama satu hari. Hari berikutnya ikan pemberian anak di sekolah itu mati. Saya.. sama sekali tidak tahu sebabnya.

2. Saya tidak suka menanam bunga. Merawat apalagi. Kalaupun di rumah ada pot-pot bunga, atau besuk di rumah baru ada taman; itu sih mode default aja.

3. Kata pak guru di sekolah yang pernah melihat saya memegang pisau, saya tidak bisa masak, katanya. Walaupun saya yakin itu penilaian sok tau-nya saja. Saya sih bisa.. IYA BISA. Coba tanya bapak saya!

4. Pekerjaan rumah tangga yang paling saya benci adalah mencuci baju...manual. "Mas, besuk istrimu ini minta mesin cuci itu ada di top-list alat rumah tangga yang harus dibeli. Ya? Aku sayang kamu, Mas!"

5. Ndak bisa dandan. Sampai umur 22tahun, masih sering grogi kalau ke toko kosmetik. Bingung euy. Ndak paham macem-macemnya dan apa yang dimau atau dibutuhin. Seringnya sih impulsive atau gampang kemakan iklan. Hasilnya? Ya getu.. kadang nggak cocok. "Ini juga lagi belajar kok, Mas.. biar kalau kondangan ngga malu-maluin."

6. Tahu pekerjaan impian saya apa? Penjaga perpustakaan.

7. Cuma punya sepatu kerja satu, crocs 1 pcs, wedges 1 pcs, dan kalau kemana-mana pakainya sandal jepit.

8. Begitu juga dengan tas. Ndak punya banyak.

Saya... ndak seperti wanita kebanyakan, kan? Kan!

#inuin

Monday, 15 December 2014

What I mean about...

Jealous (adj); if there's someone remember you the way I do.

Hatred (n); you gimme hundred reasons for me to hate you..but no, there's just a reason.. the one I couldn't do but you could.. walked away.

Respect (n); when your friend remember me as yours, then they say hi properly.

Friday, 3 October 2014

#20FactsAboutMe

1. I'm 22 years old. Iya, baru dua-dua. Slalu, masih dianggep anak kecil. Hih.
2. Obsesi diperlakukan, dihargai intelektualitas emosionalnya sebagai wanita dewasa. Tapi balik lg ke nomor satu. Fail.
3. Ngga punya kakak laki. Pengen banget punya.
4. Bisa bayangin, mengidap brother complex kalau ada kakak laki.
5. Tidak pernah jadi "pusat" perhatian dalam suatu kelompok. But, it feels comfortable at least.
6. Tidak pernah punya crush sama mas2 yang ngajar di tpa.
7. Pas smp pernah naksir temen sekelas. Ada satu moment liat2an sama doi sampe beberapa menit, ketahuan temen belakang meja. Ugh.
8. Tidak suka pramuka dan kegiatan kelompok terorganisir outdoor lainnya. Di-skors-ing sampe 20an poin pas sma gegara skip pramuka.
9. Kenal nyontek dan kenakalan sekolah lainnya di kelas 2 sma. Beberapa kali novel disita sama guru.
10. Pacar lima langkah dari rumah? Pernah.
11. Pengen banget masuk studi bahasa inggris, mentok di pgsd. Euh.
12. Anaknya dendaman. Banget.
13. Delusional.
14. Book-slut. They're just too hot, breath-taking, sweet and I always love reading.
15. Didn't get along enough with family since all of my choice for my life got rejection from them.
16. Punya temen gay dan pernah tahu aktivitas ke-gay-an-nya. Sekarang lost contact.
17. Belum pernah ke bali.
18. Ngga pernah suka jalan-jalan / belanja di Malioboro. Ugh. Panas, padet, capek.
19. Kamarnya berantakan banget. Tapi selalu merasa nyaman. Screw you who criticize!
20. Merancang mas depan sama mas heru mianto. Amin.

Wednesday, 20 August 2014

#30HariMenulisSuratCinta

Selamat datang kembali. Mari berbagi rumah. Lihat yang di sudut-sudut itu. Aku membenci mereka. Mungkin seperti kamu membenciku.

Ditulis maret 2014.

Sunday, 10 August 2014

They yelled me "Bu Ratriiiiiii bla bla bla" a lots.

"Bu Ratriii.. Mas wahyu tadi njiwiti Mbak Selvi lho Bu!!!"
Dan bla bla bla...

Tiap hari bisa dengar kalimat-kalimat macam begitu belasan bahkan puluhan kali. Yeah. Ngajar anak SD memang harus siap dengan segala macam keluhan sepele anak. Mau pipis lah, bolpoin diambil temen lah, tanya pelajarannya apa, hari ini pulang jam berapa, dan bla bla bla yang njengkelinnya lagi keluhan dan pertanyaan-pertanyaan yang sama keluar dari setiap anak. Ya kalau ada si anak tanya dan dijawab terud yang lain memperhatikan dan ikut paham mah semua terkendali. Lha ini baru juga dijawab, anak lain ngajuin pertanyaan yang sama. Nganyelke.

Dua minggu sudah full time masuk kelas, walaupun belum lumayan efektif. Dari pengamatan dan seiring pengalaman kelasku ini.....kelas yang ruaaaameeee war biyasak banget-banget. Anaknya 33, kebanyakan lakinya, kelas lapis kedua; sing bijine di bawah, ada ABK satu, yang 'nakal' cengkre? Jangan tanya.. banyak! Dan masih pada kebiasaan dituntun segala macemnya kayak di kelas dua. Huh.

I know I'm a amateur teacher. When I'm choosen to be Wali kelas 3B ibnu rushd I was like... really?? Ohhh Please drag me to 3A ar-razi class!!!! *hysterical* Sempet juga mikir positif "okay, ini apresiasi dan tantangan" tapi setelah guru-guru lain pada guyon memperingatkan "Jos jos lho Bu anaknya.. si itu begini begitu bla bla" langsung negatif. :(

Dapat jadwal ngajar 20an jam.. BI, PKn, Agama (Kemuh, Fiqih, AqidahAkhlak), BJawa. So far.... is good. Hhe.. dari tadi ngeluh terus kan ya.

Hey, but this is my way. Masalah amatir bisa belajar sambil jalan. Wibawa di depan anak-anak, guru lain, kepala sekolah juga butuh proses dengan kerja yang sesuai aturan, etika dan tetap berusaha meningkatkan kemampuan, demi apa? Demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Halah, ngomong apa ini!

So.. it's just my beginning story about my 'little monstars' 3B ibnu rushd.. Hope will countinue with a hepi hepi stories.. ngga ngeluh mulu.

Bu ratri, mau toyyan.
APA ITU TOYYAN?? *ternyata pipis*
Ngga bisa basa arab lu!! Hehhe.

Friday, 9 May 2014

A half of full.

I'm bored. I'm home. I'm thinking, how pathetic I am. I always imagine, I'm being whatever I want to be. I'm full of skill, academically (?) I'm ready, aren't I. I'm full of worry-ness. I'm doubt. Once, I thought I was ready. No. I wasn't. I fucked my self off. I screwed everything up. But now, I think it's time. There's chance(s). Far. Far away, but classified. I'm ready. Am I? I will not screw things up. Won't I? Just get up. Take a step. Things will changes, time will never be the same. But, all is about compromise. Isn't it? I think. -------inuin-------

Monday, 3 February 2014

#30HariMenulisSuratCinta Kepada I,

I, ingatkah kamu akan pertemuan-pertemuan kita yang dahulu? Urusan kerja. Saat itu aku selalu menemaninya. Adakah saat itu, sudah tumbuh di hatimu perasaan menginginkan? I, bagaimana semua bisa terjadi, I? Bisakah kamu menceritakan padaku? Aku hanya tak mendapatkan darinya.

Tidak, I. Aku tidak akan menghakimi. Bahkan sampai detik terakhir aku mengetahui ini semua, aku tak sanggup menyalahkan siapa-siapa. Bagaimana, I? Perasaanmu? Bukankah dia sungguh sosok yang menyenangkan? Dengan segala cerita-cerita tentang dunia yang dia miliki? 

Adakah aku dalam cerita-ceritanya, I?

I, aku hanya berharap seseorang meminta maaf. Berlebihankah, I? Aku tahu, I. Jika bukan dia yang menghujanimu dengan manisnya, ini semua tak akan pernah terjadi. Aku mengenalnya, I. Dia membuatmu merasa diinginkan, bukan? I, aku tak mengenal baik dirimu. Tapi aku yakin, I, kamu bisa menjaga perasaanmu.

Aku berterima kasih untuk kesediaanmu menutup pintu dari luar hatinya, I. Membiarkan kami berdebat di dalam dan semoga berakhir dengan sebuah peluk maaf.

Apakah aku menyakitimu jika aku meminta doa'mu, I? Aku minta maaf. Apa aku terlihat seperti seorang wanita egois menyedihkan, mengemis kepergianmu untuk membuatnya kembali pulang, I? Kurasa tidak, I. Aku minta maaf.

I, sekali lagi aku berterima kasih. Jaga perasaanmu, I.

tertanda,

inuin

#30HariMeulisSuratCinta Tuan...



Aku menemukan cerita yang berbeda, Tuan. Cerita kalian berdua, yang tak ada aku di dalamnya. Katamu, dia yang memulai. Kataku, Tuanlah yang berharap. Atau kalian saling berharap? Mengingini satu sama lain.

Aku tahu rasanya seperti de javu. Tiga tahun lalu. Saat itu aku berada di posisinya. Menjadi pihak yang bukan siapa-siapa, tetapi tetap merasa diinginkan.

Rasanya saat itu menyenangkan, Tuan tahu? Menjadi pihak yang bermain 'aman'. tak tersakiti. Tuan selalu datang di waktu yang ku ingin, walaupun aku tak pernah meminta. Walaupun itu berarti harus menunggu Tuan 'selesai' dengan Nona cantik yang waktu itu berada di posisiku sekarang, -kekasih Tuan, baru menjemputku.

Rasanya membanggakan. Ketika waktu itu Tuan bilang Nona cantik itu menyadari keberadaanku di mata Tuan. Membuatku merasa cukup layak untuk dipertimbangkan.

Rasanya sedikit kebas. Mendengar Tuan selalu bercerita tentang si Nona cantik ketika bersamaku. Aku hanya menahankan. Apakah sekarang ketika bersama 'dia' si gadis berkerudung akhwat itu, Tuan juga menceritakan tentangku, pada obrolan-sambil-saling-peluk kalian menjelang tidur, hm? Bercerita tentang tempat-tempat yang pernah kita datangi, dan sesekali menyelipkan janji-janji untuk kalian ke sana? Tuan, ingat? Saat itu aku hanya tersenyum antusias, apakah dia juga begitu? Berpegang pada janji-janji kecil sepele itu?

Tuan, aku tak pernah bersimpati pada perasaan si Nona Cantik kesayangan, yang sekarang berada di pulau seberang itu. Apakah menyakitkan, mendapati yang tercinta bersama wanita lain, -yang waktu itu adalah aku? Apakah menjengkelkan, hanya menjadi sekedar pilihan disandingkan dengan pilihan lain, yaitu aku? Walaupun nona cantik selalu menjadi pilihan pertama. Pun apakah rasanya tak percaya, ternyata gadis kecil yang menjadi saingan.

Sekarang, Tuan? Aku hanya bisa bilang 'oh, begini rasanya' berada di posisi Nona bermata belsar cantik itu? Segala rasa sakit, kaget, marah, bingung, jengkel, muak, tak percaya, minder, menyalahkan diri sendiri, ketakutan... Sial. Recah, Tuan.

Tuan tau? Aku pun juga pernah berpikir aku akan mengalami ini cepat atau lambat. Aku mendapatkan tuan dengan cara seperti ini. Tak menutup kemungkinan aku juga akan tersingkir dengan cara ini, bukan?

Tetapi, Tuan, tahun-tahun yang kita lewati, tempat-tempat yang kita datangi bersama, setiap pelukan, tiap-tiap kata menguatkan darimu, dariku, setiap janji, setiap kemarahan, setiap angan-angan masa depan, membuatku percaya kita menapaki anak-anak tangga sebuah hubungan dengan benar, bertahap, dan kokoh. Membuatku berpikir akulah satu-satunya. akulah yang memang tuan inginkan.

Tetapi apa sekarang. Aku tak tahu pasti apa yang terjadi di antara kalian. Tapi aku cukup yakin, sama seperti hubungan kita waktu dulu. Tuan, aku yang menjadi yang pertama, semua orang tahu, dan dia gadis 19/20 tahun yang berada dalam kastil yang ku buat di hati Tuan, tanpa ku ketahui keberadaannya sampai Tuan sendiri yang membuka kunci pintunya, membiarkan dia duduk-duduk di ruang yang sama yang tuan gunakan untuk mencumbuku.

Sial. Sial. Sial. Aku harus bagaimana, Tuan? Aku ingin percaya pada kata-kata tuan, bahwa apa-apa yang sudah kalian bangun sudah benar berakhir. Aku ingin percaya, Tuan. Tapi, yang Tuan tidak sadari dan akui, aku sungguh mengenal Tuan, lebih dari yang Tuan tahu. Setiap kemarahan yang Tuan tunjukkan, setiap kebohongan yang menumpuk di mata Tuan, semua tumpah di pelupuk mataku yang basah.

Tuan selalu mengulang-ulang tentang 'hanya wanita-wanita luar biasa'. Apa luar biasanya dia? Apakah ketika bersamanya, Tuan tak pernah merasa perlu marah atau membentak, tidak seperti ketika bersamaku? Apakah dia, tidak menjengkelkan dan membuat capek ketika jalan-jalan? Banyak apakah-apakah lainnya yang ingin aku tahu, manifestasi rasa bersalah dan rasa tak percaya diriku.

Aku tahu dia cantik. Aku merasa dia seperti bintang film kesayangan Tuan. Dengan penampilan yang membuatku berpikir, dia tak akan mau menjalani apa hal yang kalian miliki sekarang. Hei, aku tak merendahkan. Aku juga sama rendahnya, bukan? Tidak juga, aku tak menyama-rendahkan. Semua hanya asumsi. Hanya saja dia bukan gadis yang sebelumnya ku pikir. Yang kubayangkan adalah gadis 19 tahun, labil, yang tidak mungkin mendapat perhatian Tuan. Ternyata aku salah. She has 'it'. Dan aku tahu, Tuan tertarik. Anggap itu kesialanku.

Dan jika seperti yang Tuan selalu tanyakan, 'memangnya apa yang bisa kamu tawarkan, jika kamu menuntuku untuk tidak ini itu sesuai inginmu?' Aku tak punya, Tuan. Aku tak bisa menjanjikan kepastian, aku tak bisa menawarkan apa-apa yang mungkin wanita lain bisa tawarkan. Yang Tuan perlu tahu, aku sudah memberi segala. Tuan tahu itu. Tak berlebihankan, jika aku juga berharap aku yang satu di hati? Tidak ada bermain-main dengan wanita lain?

Tuan, aku sungguh tahu. Siapa dan apa saja. Hanya aku tak cukup sampai pada bagaimana. Aku tak mengerti. Atau sebenarnya aku mengerti karena aku pernah berada di posisinya, hanya saja masih tak percaya. Dia, tuan? Dan ini itu yang sudah menjadi jejak awal kalian? Hanya saja akan lebih mudah bagiku, untuk mengerti jika itu semua tentang si Nona cantik yang akan studi lagi Maret depan. Ah ya, aku harus menghadapi satu wanita lagi, hm? Semoga tidak. Ku mohon tidak, tuan.

Aku sungguh sayang Tuan. Dan jangan kalian menertawakan atas segala penerimaan, kepercayaan, dan keboodohanku.

Apa yang kalian pikirkan, Tuan? Apa yang dia pikirkan tentangku? Aku, wanita yang selalu berbangga dengan lelakiku, lelaki yang dia tahu juga mencumbunya setelah mencumbuku.

Dan ceritakan, Tuan. Tolong ceritakan semuanya...Aku hanya ingin mendengar dari awal sampai saat sekarang. Yang sebenarnya. Bisakah? Aku mohon.

Aku menunggu. 


inuin


Wednesday, 15 January 2014

2013. Bagian masa yang mana yang terlewat olehku, Tuan?

Katakan. Karena aku tak menemukan.

#CeritaDariKamar Souvenir Belerang



Iya. Souvenir bentuka love ini terbuat dari belerang. Aku dapat ketika sedang trip ke Kawah Ijen Juni 2013 lalu bareng mas dan temen2. Iya, dibeliin mas. Hei, biasanya tidak pernah kita beli-beli begituan kalau sedang trip. Ini pun juga karena temen2 pada beli, jadi mas ikutan. Niatnya pun juga beliin keponakanku, si Banyu, tetapi kan anak kecil engga boleh dekat2 dengan belerang apalagi pegang2. Jadi, buat buliknya aja ya, sayang?

Sempat jadi pajangan di kamar kos dan sukses bikin pusing karena baunya. Masih baru kali, ya. Apa2 yang baru kan pasti berbau khas, enggak plastik, enggak baju, belerang pun.

Setelah pindah ke rumah, saya pajang di meja belajar bareng barang2 yang lain. Ehem..dari mas, man! Haha. Aku enggak pernah dikasih barang2 pajangan begituan sih ya, boneka, apa2 itu. Oya, aku engga pernah suka sama boneka. Hmm..dikasihnya cinta aja, halah.

Sekarang, bentuk lovenya sudah pecah. Auk, kurang hati2 pas beresin kamar. Ya semoga cinta kita, engga pecah juga sih.


Nah, kalau kalian travelling ke Ijen, jangan lupa beli yang beginian. Macem2 bentuknya; pesawat, bunga, binatang2, banyak lah. Harga? Yang kaya punyaku itu 10ribu, tapi kalau turis asing bisa sampai 85rb. Lumayan lah yang suka barang2 pajangan macem begitu.

Inuin.

Tuesday, 14 January 2014

Kuta, hari ini.
Kita, 5 tahun silam.

Resolusi.

---------batas posting curhat------------

Resolusi blog:
1. Stop curhat.
2. Menulis rapi.
3. Setiap hari posting.
4. Ikut program blogger kekinian.


Disclaimer: Curhat disamarkan? BISA JADI. *self-toyor*

Inuin.

----------------------------------------------------------------------------------------------

Sunday, 5 January 2014

Sidang, lalu apa?


Kali ini, aku akan share soal langkah2 yang harus dilakukan setelah selesai sidang skripsi, khususnya untuk mahasiswa PGSD FIP UNY.

Pertama, selesai sidang jangan lupa minta Surat Keterangan Revisi ke subbag pendidikan. Surat ini untuk ditandatangani dewan penguji, yang menyatakan revisi sudah selesai.

Kedua, waktu revisi adalah sebulan. Biasanya, minggu pertama pasca ujian itu minggu males. Hati-hati. Inget deadline. Bimbingan ke dewan penguji (penguji utama dulu), sekalian bawa berkas2 yang harus ditandatangani. Biar nggak wira-wiri.
1. Surat keterangan revisi
2. Lembar pengesahan dan atau persetujuan (di kertas berlogo UNY) *yang banyak 7-8lembar lah.
3. Buat jurnal dan lembar persetujuan DPS

Ketiga, setelah revisi dewan penguji selesai dan acc. Segera revisi kajur, biasanya dikasih ttd kecil di lembar pengesahan yang semua dewan penguji sudah ttd.

Keempat, revisi subbag pendidikan. Milih staf yang enak, biar nggak reseh. Hehehe.

Kelima, setelah revisi semua beres.. Segera print dan jilid sesuai kebutuhan. Jurnal juga dijilid.

Keenam, tumpuk di subbag pendidikan untuk diantrikan pengesahan dekan. Biasanya sehari.

Ketujuh, setelah dapat pengesahan dekan, scan halaman pesetujuan, pernyataan dan pengesahan serta lembar persetujuan jurnal. Untuk kebutuhan pdf.

Kedelapan, buat cover dan label CD.
Convert pdf dan burn file skripsi dan jurnal yang sudah disisipkan lembar2 yang discan tadi.

Kesembilan, print syarat yudisium. Bisa di download web FIP UNY. Ada Surat Penyerahan Skripsi. Mintakan ttd dewan penguji, saat memberi berkas skripsi (hard/softcopy).

Kesepuluh, khusus subbag pendidikan dan perpus FIP ada checking. Semisal ada yang salah, disuruh ganti, pdf ulang. Kalau oke, nanti dikasih surat keterangan bebas perpus FIP.

Kesebelas, setelah urusan skripsi selesai. Urus syarat yudisium.
Di posting berikutnya ya? Hehehe.

Saturday, 4 January 2014

(yang) ku pikir tak (akan) bisa.

Patah hati ini, ternyata sama saja.
Mengira tak akan bisa kembali berjalan normal, tapi nyatanya berjalan menjadi semudah ini lagi.
Mengira hanya akan sepi sendiri hingga ingin mati, nyatanya teras hati kembali ramai dikunjungi.
Mengira tak akan pernah bisa melupakanmu, nyatanya pesan singkat darimu mudah terlewat tanpa sempat terbalas.
Mengira akan tak pernah bisa menolak kehadiranmu lagi, ternyata dering telponmu mudah ku abaikan.
Berpikir tak akan pernah jatuh pada orang lain lagi selain kamu, nyatanya kini aku bahagia. Bersamanya.

Inuin.

#2

Sial. Aku segera mengalihkan pandangan ku ke papan proyeksi. Layar berganti slide, kali ini sampai pada sub point tentang market-demanding. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Dari sudut mata, kulihat dia tersenyum, masih sambil mencatat di notesnya.

Aku tidak pernah melihatnya se-biasa ini. Tidak pernah. Dia akan selalu datang dengan sejuta keceriaan terpampang di wajahnya. Dengan tangan kesana-kemari menjaili semua yang dilewati. Membuat perempuan2 itu merajuk manja. Pemandangan membosankan setiap hari.

Tapi, hari ini, -apakah cuma aku atau teman2 yang lain juga sependapat, bahwa duta kebahagiaan mereka, terlalu terkendali? Dia datang hanya dengan langkah2 pelan tapi pasti, tersenyum malas, dan segera duduk. Oya, dia membuat catatan alih2 jahil menyela dosen, atau mencari-cari perhatian ke perempuan2 itu, membuat heboh.

Kemudian aku sadar, untuk memutuskan bahwa aku tidak peduli. Sampai saat secarik kertas dengan tulisan acak2an itu, tepat diletakkan di atas notesku. Satu kalimat sederhana di atasnya membuat aku menoleh, melihat dia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.

Thursday, 2 January 2014

#1

Sesaat aku terpaku dengan apa yang ku lihat lewat di depanku. Senyumnya? Aku sudah sangat terbiasa dengan sapa senyumnya itu. Senyum separo malas dan berkesan arogan, -seperti biasanya. Tapi bukan itu. Ada yang berbeda dengannya hari ini. Entah. Aku berpikir sesaat untuk mencari kata yang tepat, tapi apa. Ku amati dia yang kini sedang menatap serius ke depan, ke papan layar proyeksi yang aku yakin 100% tak dimengertinya, tapi seakan dia menikmati apa yang tertulis di sana. Bahkan sempat pula ia mencoret-coret sesuatu dengan snowmannya di buku notes. Penasaran, aku lirik sebentar dan waw.. dia mencatat. Perhatian, dia mencatat semua tulisan yang ada di layar proyeksi. Sesuatu yang mustahil dilakukannya. Aku perhatikan dia dari ujung sepatu sampai ujung rambutdengan cermat. Baru 128 detik kemudian, seperti benar-benar mendengar bunyi ‘klik’ di kepala ku, persis ketika dia menoleh dengan sebelah alis terangkat, -menanyakan sikapku, ku temukan kata yang tepat. Dia terlalu biasa. Ya. Hari ini.. dia.. terlalu.. biasa!


Inuin, repost wordpress. Semoga bakal ada #2.

2013 (yang terlewatkan)

2013; aku akan menuliskannya dalam hal2 yang teringat dalam otakku. Hal2 menyakitkan, menyedihkan, bahagia dan apa saja yang termemori.

1. Januari. Kegelisahan yang nyata. Beruntung, ditimpal euforia awal mulai mengerjakan skripsi.
2. Maret. Hari ke-15. Tak akan pernah aku lupa, tak akan bisa. Berada pada titik nol, atau minus? Aku cacat.
3. Maret. Stuck'nya skripsi lebih pada kesakitan yang amat . Lahir batin. Menjadi abnormal.
4. Akhir maret. Berurusan dengan aparat. Bukan aku. Tapi cukup menyita simpati.
5. April. Sepertinya banyak senyum.
6. Juni. Perjalanan ke Ijen Banyuwangi. Kita.
8. Juli. Pindah kost. Berdamai dengan kata 'pulang'. Tak pernah mudah.
9. Bulan puasa. Lebih banyak di rumah.
10. Hampir lebaran. Babak baru skripsi, proposal acc.
11. Agustus. Banyak di sekolah.
12. Oktober. Sidang skripsi.
13. Oktober. Gagal wisuda periode Desember.
14. Yudisium dan berhak S. Pd tertanggal 31 Desember 2013.

15. Mas sidang.

Time flies. 2013 tamat. Hanya untuk menyadarkanku bahwa tak banyak hal termemori. Apakah tak berkesan? Apakah tak begitu penting? Apa? Siapa? Bagaimana?

Ada hal2 yang aku lewati, ada hal2 yang tak mampu ku genggam.

1. Restu.
2. Bali.
3. Wisuda akhir tahun.

2014? Aku datang dengan mimpi lama.
1. Restu.
2. Kerjaan layak.
3. Kita.
4. Jarak. Antara kau dan aku yang mungkin akan mengulur jarak hingga ratusan kilometer, atau kita dengan masalalu yang justrumemotong mil2 jarak..
5. Bali.




Inuin, lengket. Krim malemnya kebanyakan.